Rabu, 06 Juni 2018

TUGAS REVIEW JOURNAL OLEH NABILA RIZKI ANANDA 2 PA 11

TUGAS REVIEW JURNAL PSIKOLOGI
Nama   : Nabila Rizki Ananda
Kelas   : 2 PA11

NPM   : 15516218

1.                   
Judul
:
Using Social Media for Social Comparison and Feedback-Seeking: Gender and Popularity Moderate Associations with Depressive Symptoms
2.       
Jurnal
:
Journal Abnormal Child Psychology
3.       
Volume
:
Volume 43
4.       
Tahun
:
2015
5.       
Penulis
:
Jacqueline Nesi dan Mitchell J. Prinsten
6.       
Tujuan Penelitian
:
Untuk memeriksa implikasi psikologis penggunaan tekhnologi pada remajaa dalam model depresi remaja, dan pentingnya pendekatan yang lebih bernuansa untuk mempelajari penggunaan media pada remaja
7.       
Subjek Penelitian
:
Subjek penelitian adalah 619 peserta. Murid-murid itu
siswa kelas delapan dan sembilan di sosioekonomi rendah hingga menengah
status (SES)
8.       
Metode Penelitian
:
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner.
9.       
Pengukuran
:
Semua siswa di kelas tujuh dan delapan direkrut, kecuali
bagi mereka di ruang kelas pendidikan khusus mandiri, menggunakan persetujuan orang tua dan persetujuan remaja. Sebanyak 868 siswa berpartisipasi dalam gelombang pertama penelitian (dasar). Sekarang belajar dilakukan 1 tahun kemudian, ketika siswa masuk kelas delapan dan kesembilan. Dari sampel asli 868, 90% siswa berpartisipasi (n = 779). Gesekan terjadi karena peserta bergerak menjauh dari area (n = 14), pindah ke yang sekolah yang berbeda (n = 20), penarikan dari sekolah (n = 18), penarikan dari penelitian (n = 20), dan absensi (n = 17). Dari 779 siswa yang disurvei, 130 siswa dikeluarkan dari analisis. Dari 130, 53 siswa dikeluarkan
karena mereka menunjukkan bahwa mereka tidak menggunakan teknologi sebagaimana didefinisikan dalam studi (penggunaan ponsel, Facebook, atau Instagram). 77 siswa lainnya tidak menyelesaikan satu pun langkah-langkah yang terkait dengan penggunaan teknologi, karena penempatan pertanyaan-pertanyaan ini di akhir protokol penelitian. Erosi analisis menunjukkan bahwa siswa yang dikecualikan, rata-rata, lebih cenderun laki-laki, t (775) = 3,13, p = 0,002, dan Afrika Amerika, χ2 (3) = 24,77, p <0,001. Setelah analisis awal, dua pencilan diidentifikasi dalam data, dengan nilai lebih dari empat standar deviasi di bawah ini mean untuk popularitas. Pencilan ini dihapus untuk lebih lanjut analisis. Analisis terpisah dilakukan dengan menggunakan pendekatan winsorising, di mana popularitas outlier ditetapkan menyamai nilai terdekat berikutnya (kira-kira 3,25 standar penyimpangan di bawah rata-rata). Pola hasil konsisten di kedua perlakuan outlier; dengan demikian, hasil untuk analisis di mana pencilan dihapus dilaporkan di sini. Sebagai tambahan, 14 subjek tidak memberikan informasi tentang gejala awal depresi dan 14 subjek tidak menyelesaikan ukuran
SCFS berbasis teknologi. 
10.   
Hasil
:
 Perempuan melaporkan nilai rata-rata yang lebih tinggi dari sebagian besar variabel penelitian, termasuk gejala depresi, berbasis teknologi SCFS, frekuensi penggunaan teknologi, dan jaminan yang berlebihan pencarian. Tidak ada perbedaan yang muncul antara pengguna dan non-pengguna teknologi dalam hal SES atau etnis. Namun, 53 siswa yang menunjukkan bahwa mereka tidak menggunakan teknologi itu lebih banyak pada laki-laki, lebih rendah dalam gejala depresi. Hubungan positif yang signifikan ditemukan antara frekuensi penggunaan teknologi, SCFS berbasis teknologi, dan offline pencarian kepastian berlebihan. Popularitas berhubungan positif dengan frekuensi penggunaan teknologi dan berbasis teknologi SCFS Namun, itu berhubungan negatif dengan gejala depresi. Korelasi Pearson juga dilakukan untuk menguji hubungan antara variabel penelitian dan sosial ekonomi status (SES). Individu yang lebih rendah dalam laporan SES frekuensi penggunaan teknologi yang lebih tinggi dan tingkat popularitas yang lebih rendah. Yang menarik, meski gejala depresi berkorelasi positif dengan teknologi konkuren menggunakan frekuensi, hubungan ini tidak lagi signifikan setelah akuntansi untuk variabel lain dalam model regresi penuh, Analisis juga dilakukan untuk menentukan apakah sarana dan standar deviasi variabel penelitian berbeda berdasarkan etnis. Tidak ada perbedaan ditemukan dalam tingkat depresi antara kelompok ras / etnis.
11.   
Diskusi
:
Teori interpersonal depresi remaja menyoroti beberapa arah asosiasi di antara gejala depresi, pengalaman sosial, dan perilaku interpersonal yang terjadi dalam suatu lingkungan sosial yang semakin kompleks selama periode waktu ini. Temuan memiliki potensi untuk menginformasikan model interpersonal depresi remaja yang lebih baik akun untuk lingkungan sosial remaja modern.
12.   
Kesimpulan
:
penelitian saat ini menyediakan pendahuluan baru
bukti bahwa perbandingan sosial berbasis teknologi dan
perilaku mencari umpan balik mungkin berhubungan dengan depresi gejala di kalangan remaja, mengendalikan keseluruhan penggunaan teknologi, gejala depresif sebelumnya, dan offline ERS. Selanjutnya, popularitas dan jenis kelamin dapat memainkan peran dalam efek ini, sedemikian rupa sehingga hubungan antara ini perilaku dan gejala depresi sangat kuat di kalangan remaja yang rendah popularitasnya dan di antara wanita. Lingkungan sosial remaja semakin bergantung tentang keberadaan teknologi sosial, termasuk telepon seluler, pesan teks, dan SNS. Temuan saat ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana ini lingkungan sosial modern dapat bersinggungan dengan yang ada model interpersonal psikopatologi.

Rabu, 07 Juni 2017

mitos

Mitos,Penalaran dan Cara Memperoleh Pengetahuan
A.Membedakan Pengertian Mitos, Legenda dan Cerita Rakyat
  • Mitos
Mitos dalam bahasa Yunani adalah mytho yang artinya sesuatu yang diungkapkan sedangkan dalam bahasa Belanda adalah mythe / mite. Definisi Mitos itu sendiri adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita atau penganutnya. Secara sederhana Mitos dapat dikatakan suatu informasi yang sebenarnya salah tetapi dianggap benar karena telah beredar dari generasi ke generasi.
Begitu luasnya suatu mitos beredar di masyarakat sehingga masyarakat tidak menyadari bahwa informasi yang diterimanya itu tidak benar. Karena begitu kuatnya keyakinan masyarakat terhadap suatu mitos tentang sesuatu hal, sehingga mempengaruhi perilaku masyarakat. Mitos juga disebut Mitolog, yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan berkaitan dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng suci. Mitos juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka dan sebagainya.
Mengapa Mitos dipercaya? Sebab masyarakat beranggapan mitos sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat tradisional yang masih sangat kental budaya kedaerahnya. Mereka kebanyakan mengabaikan logika dan lebih mempercayai hal-hal yang sudah turun menurun dari nenek moyang.
  • Legenda
Dalam bahasa Latin adalah legere yakni cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. cerita yang diceritakan seolah-olah itu adalah peristiwa sejarah, bukan sebagai penjelasan untuk sesuatu atau narasi simbolik. Oleh karenanya, legenda sering kali dianggap sebagai sejarah kolektif (folk history). Meski demikian, karena tidak tertulis, maka kisah-kisah tersebut telah mengalami distorsi, sehingga sering kali jauh berbeda dengan aslinya. Legenda itu sendiri dekat sekali denganMitologi. Namun, pada legenda meskipun kejadiannya dianggap benar, pelaku-pelaku kisahnya adalah manusia, bukan Dewa dan monster seperti pada Mitologi.

  • Cerita Rakyat
Cerita Rakyat adalah sebagian kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia maupun dewa.
Fungsi Cerita rakyat selain sebagai hiburan juga bisa dijadikan suri tauladan terutama cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan pendidikan moral. Banyak yang tidak menyadari kalo negeri kita tercinta ini mempunyai banyak Cerita Rakyat Indonesia yang belum kita dengar, bisa dimaklumi karena cerita rakyat menyebar dari mulut – ke mulut yang diwariskan secara turun – temurun. Namun sekarang banyak Cerita rakyat yang ditulis dan dipublikasikan sehingga cerita rakyat Indonesia bisa dijaga dan tidak sampai hilang dan punah.Sekarang banyak juga Cerita Rakyat yang difilmkan dan sisi positifnya Cerita Rakyat jadi semakin terjaga meski kadang ada penambahan jalan ceritanya.
Jadi, Perbedaan antara mitos, legenda, dan cerita rakyat merupakan cara yang mudah dalam mengelompokkan cerita tradisonal. Secara garis besar mitos adalah cerita yang belum jelas terjadinya karena tidak ada bukti otentik yang bisa membuktikan kebenarannya. Sedangkan Legenda adalah cerita rakyat dimasa lampau yang benar-benar terjadi dan biasanya memiliki bukti otentik. Dan Cerita Rakyat itu biasanya cerita tentang kebudayaan asal muasal suatu tempat atau kejadian.

B. Menyebutkan Contoh dari Mitos, Legenda dan Cerita Rakyat
  • Mitos
Berikut adalah contoh Mitos dari luar negeri:
MITOS ANGKA 13
Sebagai contoh kecil, di berbagai gedung tinggi di China, tidak ada yang namanya lantai 13 dan 14. Menurut kepercayaan mereka, kedua angka tersebut tidak membawa hoki. Di Barat, angka 13 juga di anggap sial. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya. Kalau kita perhatikan nomor-nomor di dalam lift gedung-gedung tinggi dunia, anda tidak akan menjumpai lantai 13. Biasanya setelah angka 12 maka langsung “loncat” ke angka 14.
Fenomena ini terdapat di banyak negara dunia, termasuk Indonesia. Angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan karena adanya kepercayaan tahayul dan aneka mitos yang berasal dari pengetahuan kuno bernama kabbalah. Kabbalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapikan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Fir’aun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya. Bangsa Amerika rupa-rupanya juga menganggap angka 13 sebagai angka yang harus dihindari. Bangunan-bangunan tinggi di Amerika jarang yang menggunakan angka 13 sebagai angka lantainya. Bahkan dalam kandang-kandang pacuan demikian pula adanya, dari kandang bernomor 12 lalu 12a dan langsung ke nomor 14. Tidak ada angka 13. Itulah sebabnya angka 13 dianggap sebagai angka sial karena menjadi bagian utama dari ritual setan.
Sedangkan contoh Mitos dari dalam negeri yakni:
MITOS BERINGIN KEMBAR TERKENAL DI YOGYAKARTA
Di tengah hiruk pikuk Kota Yogyakarta yang semakin disentuh modernisasi, rupanya tak menghilangkan mitos yang diyakini sampai kini. Mitos beringin kembar di Alun-alun Kidul. Kalau bisa melintasi dua pohon beringin kembar itu dengan mata tertutup, semua permintaan kita akan dikabulkan. Mitos tersebut dilatarbelakangi oleh dua cerita yang ada di tengah masyarakat. Berikut ini adalah dua versi cerita tersebut.
Versi I
Ketika sultan Hamengkubuwono I bertahta, ada sebuah cerita seputar perkawinan. Putri Sultan akan dipinang oleh seorang lelaki. Namun Sang Putri tidak menyukainya. Untuk menolak secara halus, sang Putri meminta syarat: Jika ingin menikahinya, maka lelaki tersebut harus bisa berjalan dengan mata ditutup dari Pendopo yang ada di sebelah utara Alun-alun Kidul melewati dua beringin kembar ditengah alun alun dan finish di pendopo yang ada di sebelah selatan alun alun kidul. Laki-laki tersebutpun gagal melewati beringin. Kemudian Sultan mengatakan bahwa yang bisa melewati dua beringin tersebut hanyalah pemuda yang hatinya benar-benar bersih dan tulus. Sampai pada akhirnya datang seorang pemuda dari Siliwangi yang berhasil melewati rintangan yang disyaratkan oleh Putri Sultan.
Versi II
Ada sebuah kepercayaan bahwa pohon beringin kembar yang terdapat di Alun-alun Selatan Kota Yogyakarta merupakan sebuah gerbang menuju laut selatan. Kepercayaan ini berkembang di bawah kekuasaan Sultan Hamengkubuwono VI. Warga di sekitar Keraton sangat memercayai hal tersebut. Namun, hanya orang dengan hati yang bersih saja yang mampu melihat dan melewati gerbang di antara dua beringin tersebut.
Hal itu diyakini untuk mengalap berkah dan meminta perlindungan dari banyaknya serangan musuh. Dari situlah mitos mulai berkembang.
Contoh Mitos dalam negeri lainnya adalah Cerita barong di Bali, Cerita Nyai Roro Kidul (Ratu Laut Selatan), Cerita Joko Tarub Cerita, Dewi Nawangwulan dll.

  • Legenda
Contoh Legenda adalah sebagai berikut:
LEGENDA AJI SAKA
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda.
Sedangkan di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan.
setibanya Aji Saka di Medang Kamulan Prabu Dewata Cengkar sedang marah, seketika serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

  • Cerita Rakyat
Contoh dari Cerita Rakyat adalah:
LUTUNG KASARUNG
Cerita ini mengisahkan cerita masyarakat sunda tentang perjalanan Sanghyang Guruminda dari kahyangan yang diturunkan ke bumi dalam wujud Lutung Kasarung. Dalam perjalannya di bumi sang Lutung dipertemukan oleh putri purbasari. Lutung kasarung adalah seekor makhluk yang buruk rupa dan pada akhirnya ia berubah menjadi seorang pangeran. Lutung dan Purbasari akhirnya menikah dan mereka memerintah kerajaan Pasir Batang bersama-sama.
Contoh lain dari Cerita Rakyat yakni Roro Jonggrang, Si Pitung, dan Danau Toba.

C. Menjelaskan Kembali Bagaimana Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan
Dari lahir hingga mati manusia tak akan lepas dari proses mengumpulkan pengetahuan. Contoh paling mudah adalah pengetahuan yang didapat melalui proses sensori indera. Pengetahuan tentang warna, tentang nada, tentang perbedaan panas dingin semuanya didapat melalui pengalaman langsung inderawi. Contoh lainnya adalah dari rasa ingin tahu manusia itu sendiri. Rasa ingin tahu ini sudah dimiliki manusia sejak kecil. Banyak cara untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Anak yang belum dapat bertanya senang mencoba-coba hal yang tidak diketahuinya. Sebagai contoh anak kecil senang memasukan barang-barang ke dalam mulutnya hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Di tahap selanjutnya anak-anak akan banyak bertanya contohnya “itu apa?”, “ini bagaimana?” itu hal yang lumrah dilewati oleh manusia untuk pengembangan diri. Rasa ingin tahu tersebut akan terpuaskan bila diperoleh pengetahuan yang dia pertanyakan dengan hal yang benar.
Pengetahuan dapat diperoleh kebenarannya dari dua pendekatan, yaitu pendekatan non-ilmiah dan ilmiah.
-Pendekatan Non Ilmiah
  • Akal Sehat
Menurut Conant yang dikutip Kerlinger (1973) akal sehat adalah serangkaian konsep dan bagian konseptual yang memuaskan untuk penggunaan praktis bagi kemanusiaan. Konsep merupakan kata yang dinyatakan abstrak dan dapat digeneralisasikan kepada hal-hal yang khusus. Akal sehat ini dapat menunjukan hal yang benar, walaupun disisi lainnya dapat pula menyesatkan.
  • Intuisi
Intuisi adalah penilaian terhadap suatu pengetahuan yang cukup cepat dan berjalan dengan sendirinya. Biasanya didapat dengan cepat tanpa melalui proses yang panjang tanpa disadari. Dalam pendekatan ini tidak terdapat hal yang sistemik.
  • Prasangka
Pengetahuan yang dicapai secara akal sehat biasanya diikuti dengan kepentingan orang yang melakukannya kemudian membuat orang mengumumkan hal yang khusus menjadi terlalu luas. Dan menyebabkan akal sehat ini berubah menjadi sebuah prasangka.
  • Penemuan Coba-Coba
Pengetahuan yang ditemukan dengan pendekatan ini tidak terkontrol dan tidak pasti. Diawali dengan usaha coba-coba atau dapat dikatakan trial and error. Dilakukan dengan tidak kesengajaan yang menghasilkan sebuah pengetahuan dan setiap cara pemecahan masalahnya tidak selalu sama. Sebagai contoh seorang anak yang mencoba meraba-raba dinding kemudian tidak sengaja menekan saklar lampu dan lampu itu menyala kemudian anak tersebut terperangah akan hal yang ditemukannya. Dan anak tersebut pun mengulangi hal yang tadi ia lakukan hingga ia mendapatkan jawaban yang pasti akan hal tersebut.
  • Pikiran Kritis
Pikiran kritis ini biasa didapat dari orang yang sudah mengenyam pendidikan formal yang tinggi sehingga banyak dipercaya benar oleh orang lain, walaupun tidak semuanya benar karena pendapat tersebut tidak semuanya melalui percobaan yang pasti, terkadang pendapatnya hanya didapatkan melalui pikiran yang logis.
-Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pengetahuan yang didapatkan melalui percobaan yang terstruktur dan dikontrol oleh data-data empiris. Percobaan ini dibangun diatas teori-teori terdahulu sehingga ditemukan pembenaran-pembenaran atau perbaikan-perbaikan atas teori sebelumnya. Dan dapat diuji kembali oleh siapa saja yang ingin memastikan kebenarannya.
D. Menjelaskan Kembali Bagaimana Manusia Begitu Mudah Menerima Mitos Karena Akibat Keterbatasan Penalaran dan Keingintahuannya Untuk Sementara Dapat Terjawab
Begitu besarnya pengaruh mitos, legenda dan cerita rakyat bahkan sampai saat ini banyak dari kita yang masih mempercayai salah satu atau beberapa hal tersebut. Faktor yang mempengaruhi manusia begitu mudah menerima mitos yakni :
1.     Rasa Ingin Tahu
Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu yang merupakan cirri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di alam sekitarnya, bulan, bintang, dan matahari, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri (antroposentris).
Dengan pertolongan akal budinya manusia menemukan berbagai cara untuk melindungi diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan. Tetapi adanya akal budi itu juga menimbulkan rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Rasa ingin tahu itu tidak pernah dapat dipuaskan. Kalau salah satu soal dapat dipecahkan maka timbul soal lain yang menunggu penyelesaian. Akal budi manusia tidak pernah puas dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul dalam pikirannya. Kegiatan yang dilakukan manusia itu kadang-kadang kurang serasi dengan tujuannya. Sehingga tidak dapat menghasilkan pemecahan. Tetapi kegagalan biasanya tidak menimbulkan rasa putus asa, bahkan seringkali justru membangkitkan semangat yang lebih menyala-nyala untuk memecahkan persoalan. Dengan semangat yang makin berkobar ini diadakanlah kegiatan-kegiatan lain yang dianggap lebih serasi dan dapat diharapkan akan menghasilkan penyelesaian yang memuaskan.
2. Mitos
Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan ataupun pengalaman. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu. Sebagai contoh: “Apakah pelangi itu?”, karena tak dapat dijawab, manusia mereka-reka jawaban bahwa pelangi adalah selendang bidadari. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu bidadari. Contoh lain: “Mengapa gunung meletus?”, karena tak tahu jawabannya, manusia mereka-reka sendiri dengan jawaban: “Yang berkuasa dari gunung itu sedang marah”.
Dengan menggunakan jalan pemikiran yang sama muncullah anggapan adanya “Yang kuasa” di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana bulan. Pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itulah yang kita sebut dengan mitos. Cerita yang berdasarkan atas mitos disebut legenda.
Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indera manusia misalnya:
  • Alat Penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tidak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
  • Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak terdengar.
  • Alat Pencium dan Pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun diciumnya. manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaitu rasa manis,masam ,asin dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita bila konsentrasi di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak semua orang bisa melakukannya.
  • Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin namun sangat relatif sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat. Alat-alat indera tersebut di atas sangat berbeda-beda, di antara manusia ada yang sangat tajam penglihatannya, ada yang tidak.
Demikian juga ada yang tajam penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang dilatih untuk itu, namun tetap sangat terbatas. Usaha-usaha lain adalah penciptaanalat. Meskipun alat yang diciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan tersebut. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu.


Kesimpulan
Legenda, mitos, dan dongeng adalah berbagai jenis cerita rakyat, sebagian besar yang telah turun-temurun. Legenda biasanya didasarkan pada semacam fakta sejarah dan memiliki karakter dan kisah yang sangat menakjubkan. Sebuah mitos memiliki dasar dalam agama, sering bercerita tentang makhluk gaib atau pencipta, dan biasanya menjelaskan semacam fenomena alam.
Dongeng umumnya memiliki beberapa jenis elemen yang fantastis, dan mungkin fitur magis, makhluk-makhluk khayalan, dan sering terjadi konflik antara pihak yang baik dan yang jahat.
Semua tiga jenis cerita memiliki sesuatu yang fantastis dan luar biasa di dalamnya, perbedaannya ada dalam isi, dari mana asalnya, dan apakah memiliki bukti fakta bersejarah.

Daftar Pustaka