Rabu, 21 Desember 2016

Sastra

SASTRA
Sastra berasal dari kata castra berarti tulisan. Dari makna asalnya dulu, sastra meliputi segala bentuk dan macam tulisan yang ditulis oleh manusia, seperti catatan ilmu pengetahuan, kitab-kitab suci, surat-surat, undang-undang dan sebagainya.
Sastra dalam arti khusus yang kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan perasaan manusia. Jadi, pengertian sastra sebagai hasil budaya dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya.
Dalam perkembangan berikut kata sastra sering dikombinasikan dengan awalan “su” sehingga menjadi susastra, yang diartikan sebagai hasil ciptaan yang baik dan indah
Dalam konteks kesenian,kesustraan adalah salah satu bentuk atau cabang kesenian,yang menggunakan media bahasa sebagai alat pengungkapan gagasan dan perasaan senimannya, sehingga sastra juga disamakan dengan cabang seni lain seperti seni tari,seni lukis, dan sebagainya.

Ada tiga hal yang berkaitan dengan pengertian sastra,  yaitu ilmu sastra teori sastra dan karya sastra.
Ilmu sastra adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki secara ilmiah berdasarkan metode tertentu mengenai segala hal yang yang berhubungan dengan seni sastra.
Pengajaran tentang sastra biasanya bersumber dari pengetahuan tentang sastra. Pengetauhuan tentang sastra atau yang dikenal pula sebagai literary studies, oleh para ahli dibagi menjadi tiga cabang, yakni: teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra.
Ilmu sastra sebagai salah satu aspek kegiatan sastra meliputi hal-hal berikut  :
a.    Teori sastra,yaitu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang asas-asas hokum-hukum,prinsip dasar,seperti struktur,sifat-sifat,jenis-jenis, serta sistem sastra.
b.    Sejarah sastra,yaitu ilmu yang mempelajari sastra sejak timbulnya hingga perkembangan yang terbaru.
c.    Kritik sastra,yaitu ilmu yang mempelajari karya sastra dengan memberikan pertimbangan dan penilaian terhadap karya sastra.kritik sastra dikenal juga telaah sastra.
Ketiga cabang ilmu tersebut tentunya mempunyai keterkaitan satu sama lain dalam rangka memahami sastra kesuluruhan(timbal-balik).

Secara urutan waktu sastra di Indonesia terbagi atas beberapa angkatan, yaitu Angkatan Pujangga Lama, angkatan Sastra Melayu Lama, angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 1945, angkatan 1950-1960-an, angkatan 1966-1970-an, angkatan 1980-1990an, angkatan Reformasi, angkatan 2000-an.
a.    Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikaian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syairpantungurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, sertaNuruddin ar-Raniri.
Karya sastra pujangga lama antara lain :
·         Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, Hikayat Amir Hamzah, Syair Bidasari, Syair Ken Tambunan, Syair Raja Mambang Jauhari.
b.    Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870-1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti “LangkatTapanuliMinangkabau dan daerah Sumatera lainnya”, orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
Karya sastra Melayu lama:
·         Kapten Flambeger(terjemahan), Rocamble(terjemahan), Kisah perjalanan Nahkoda Bonteko.
c.    Angkatan Balai Pestaka
Di ikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu. Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai PustakaProsa(roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawadan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali,bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Karya sastra angkatan Balai Pustaka :
·         Merari Siregar : Azab dan Sengsara(1920), Binasa kertna gadis Priangan(1931), dll.
·         Marah Roesli : Siti Nurbaya (1920), La Hami(1924)
d.    Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Balai Pustaka (tahun 1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang.
Karya sastra pujangga baru :
·           Sutan Takdir Alisjahbana : Dian tak kunjung Padam (1932), tebaran mega-kumpulan sajak(1935), Layar terkembang(1936), dll.
e.    Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan ’45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan ’45 memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan ’45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria “Jalan lain menuju Roma” dan “Atheis” dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia. Karya Sastra Angkatan 1945:
·         Chairil Anwar : o   Kerikil Tajam (1949)
   o   Deru Campur Debu (1949)
f.      Angkatan 1950-1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisahasuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia. Karya Sastra Angkatan 1950-1960-an :
·         Toto Sudarto Bachtiar :
o    Etsa sajak-sajak (1956)
o    Suara – kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
g.    Angkatan 1966-1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra)pimpinan Mochtar Lubis Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. PenerbitPustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye,Purnawan TjondronegoroDjamil SuhermanBur Rasuanto,Goenawan MohamadSapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin. Karya Sastra 1966-1970-an :
·         Taufik Ismail : Malu (aku) Jidi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, dll.
·         Leon Agusta : Monumen Safari (1966), catatan putih(1975), dll.
h.    Angkatan 1980-1990-an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum. Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka.
Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya. Karya sastra angkatan 1980-1990-an: ahmadun yosi herfanda : Ladang Hijau(1980),sajak penari(1990).sebelum tertawa dilarang(1997), dll.
Y.B Mangunwijaya : burung-burung manyar(1981)
Budi darma : olenka (1983)
i.      Angkatan Reformasi.
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tanganSoeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) danMegawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang “Sastrawan Angkatan Reformasi”. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra  puisi, cerpen, dan novel  pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum BachriAhmadun Yosi HerfandaAcep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra.com – nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi :
·         Widji Thukul :
                        o    Puisi Pelo
                        o    Darman

j.      Angkatan 2000-an.
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya “Sastrawan Angkatan 2000”. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan olehGramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal MalnaAhmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, sepertiAyu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.
Karya Sastra  Angkatan 2000-an :
·         Ayu utami: saman (1998), larung(2001).
·         Dewi lestari :
o   Supernova 2.1: Akar (2002)
o   Supernova 2.2: Petir (2004)
·         Seno Gumira Ajidarma
·         Atas Nama Malam
·         Sepotong Senja untuk Pacarku
·         Biola Tak Berdawai
·         Dewi Lestari
·         Supernova 2.1: Akar (2002)
·         Supernova 2.2: Petir (2004)
·         Raudal Tanjung Banua
·         Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
·         Ziarah bagi yang Hidup (2004)
·         Parang Tak Berulu (2005)
·         Gugusan Mata Ibu (2005)
·         Habiburrahman El Shirazy
·         Ayat-Ayat Cinta (2004)
·         Diatas Sajadah Cinta (2004)
·         Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
·         Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
·         Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
·         Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
·         Dalam Mihrab Cinta (2007)
·         Andrea Hirata
·         Laskar Pelangi (2005)
·         Sang Pemimpi (2006)
·         Edensor (2007)
·         Maryamah Karpov (2008)
·         Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)

Sumber : buku bahasa indonesia

                sugiartiika.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar